Sabtu, 08 Juni 2019

" HANYA TONGKAT "

HANYA TONGKAT

TUHAN berfirman kepadanya : "Apakah yang di tanganmu itu?" jawab Musa: "Tongkat".
Keluaran 4:2.





Dalam kehidupan orang Yahudi/Isarel khususnya para gembala pada zaman itu tidak bisa lepas dari yang namanya tongkat, tongkat itu sendiri selain berguna untuk menopang tubuh saat dalam perjalanan jauh tongkat juga untuk menghalau binatang buas dari kawanan ternak para gembala.
Bagi raja, tua-tua kota dan para pemuka-pemuka agama tongkat bisa melambangkan otoritas atau wewenang yang di milikinya.
     Musa juga memegang tongkat, akan tetapi tongkat yang di bawa Musa hanyalah seperti tongkat para gembala pada umumnya, yang hanya berfungsi dalam pengembalaan kawanan domba-dombanya. Kehidupan Musa yang sedari kecil hidup di Mesir di dalam istana Firaun, sebagai anak angkat putri Firaun, tentunya secara pendidikkan dan secara ekonomi sangat berlimpah. Tapi setelah 40 tahun semuanya itu berubah disaat dia membunuh salah satu prajurit raja Firaun, karena dia membela orang sebangsanya (Israel/Ibrani) yang di pukuli oleh karena bangsanya Musa di perbudak di Mesir. Sejak peristiwa itu Musa menjadi orang pelarian, dia lari dari Mesir meninggalkan semua kemewahannya, hingga ia samapai di Midian dan menjadi menantu Yitro imam di Midian.
Kondisi Musa sudah berubah, dulu ia tinggal di istana sekarang ia hanya seorang gembala kambing domba milik mertuanya, sungguh suatu perubahan yang tidak pernah ia bayangkan bahkan impikan akan menjadi seperti ini, hanya ada TONGKAT gembala di tangannya bukan tongkat otoritas atau kekuasaan yang untuk memimpin tapi hanya TONGKAT gembala untuk mengembalakan kambing domba. Ia yang menerima pendidikkan di kerajaan Mesir selama 40 tahun, yang seharusnya menjadi pemimpin prajurit, tapi kenyataan berbicara lain ia yang mengenyam pendidikkan yang baik hanya menjadi "pemimpin" kambing domba itu pun milik mertuanya.
HANYA TONGKAT, yang ada di tangan Musa yang ia pakai untuk mengembalakan kambing domba setelah sekian lama ia mengembalakan kambing domba, di suatu saat Musa berada di gunung Horeb mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan Tuhan mengutus Musa untuk membebaskan bangsanya dari perbudakkan di Mesir tempat dimana ia di besarkan. Menyadari tugas itu terlampau berat baginya Musa menolak dengan berbagai alasan, tapi Tuhan tidak kurang cara kalau mau merubah hidup seseorang lalu Tuhan berfirman: "Apakah yang di tanganmu itu ?" Jawab Musa : "TONGKAT".
Musa mau berkata ini hanya tongkat Tuhan, tongkat gembala biasa tidak ada istimewanya, tidak ada otoritas apa-apa selain hanya untuk mengembalakan kambing domba. Mana mungkin bisa ada otoritas untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan, tidak ada Tuhan...
Tetapi Tuhan berfirman: "Lemparkanlah itu ke tanah". (Keluaran 4:3) lalu Musa melemparkannya ke tanah dan Tuhan membuat keajaiban tongkat itu menjadi ular, Musa diminta untuk memegang ekor ular tersebut kemudian ular itu menjadi tongkat kembali, dengan tongkat yang sama inilah Tuhan memakai Musa mengadakan banyak keajaiban dan melalui tongkat yang sama juga Tuhan mengangkat keberadaan Musa dari seorang gembala kambing domba mnejadi seorang pemimpin dan pembebas bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir.
     Dari kisah perjalanan kehidupan Musa kita dapat belajar beberapa hal :
                    ✔ Menjadi Tidak Berarti
Musa tinggal di istana Mesir yang tadinya dia di buang oleh orang tuanya di hanyutkan di sungai Nil dengan alasan keselamatan, lalu ditemukan oleh putri Firaun dan di angkat menjadi anak. Sebagai anak angkat putri raja tentunya Musa mendapatkan fasilitas-fasilitas layaknya seorang anak putri raja, pendidikan yang terbaik, posisi di istana yang tidak didapatkan oleh orang-orang sebangsanya.
Tetapi oleh satu dan lain hal kehidupan bisa berubah menjadi kebalikannya dan itu bisa di alami oleh siapa saja, dulunya menjadi anak orang kaya semua serba ada dan kecukupan karena orang tuanya terlilit hutang hidupnya menjadi miskin dan tidak punya apa-apa. Dulu punya pangkat dan kedudukan yang sangat baik di perusahaan atau di pemeritahan, karna tersandung masalah kini memnjadi orang biasa-biasa saja. Kehidupan terasa menjadi kejam dan menakutkan seakan-akan hidup ini tidak ada artinya lagi, tidak ada orang yang mau peduli lagi. Tapi percayalah Tuhan mengerti apa yang kita alami, Tuhan selalu memperhatikan kita, akan tiba waktunya nanti Tuhan pasti tolong. Melalui penderitaan, petaka, kesusahan yang menimpa kita Tuhan memiliki tujuan untuk membawa kita semakin dekat dan bersandar kepada-Nya.
              


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bersyukur Dalam Segala Hal

  BERSYUKUR DALAM SEGALA HAL " Mengucap syukulah dalam segala hal, sebab itulah yang di kehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bag...