Senin, 12 Agustus 2019

Bersyukur Dalam Segala Hal

 BERSYUKUR DALAM SEGALA HAL

" Mengucap syukulah dalam segala hal, sebab itulah yang di kehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." ( 1  Tes 5 : 18 )


     Dalam menjalani kehidupan ini sering kali banyak hal yang terjadi di luar kendali kita, kalau sudah begini apa respon kita? Marah, mengeluh, kecewa atau mengucap syukur ?
Bersyukur memang tidak semudah yang kita ucapkan, itu membutuhkan hati yang betul-betul dapat memahami apa yang terjadi di dalam hidup kita dan di perlukan penguasaan diri yang kuat.
Mengapa kita perlu mengucap syukur dalam segala hal ?

    1. Dengan Mengucap Syukur Kita Sudah Menyelesaikan 50%  Masalah Yang Kita Hadapi

Sesungguhnya setiap permasalahan, 50 % itu di sebabkan dari diri kita sendiri sebab sejak manusia jatuh kedalam dosa dan telah kehilangan kemulian Allah dosa itu merusak segala yang baik yang Allah taruh di dalam hidup manusia, sehingga hal yang buruk terjadi di dalam kehidupan manusia, dosa selalu mewarnai peta perjalanan hidup manusia. Dengan menyadari hal ini kita harus mengucap syukur, karna dalam keberadaan manusia yang berdosa Allah mau menebus, mau mengampuni melalui pengorbanan Yesus Kristus.

     2. Dengan Kita Mengucap Syukur, Kita Dapat Menemukan Hal Yang Positif Dari Peristiwa Yang Buruk Sekalipun

Dalam peristiwa tertentu yang terjadi di dalam hidup kita, kita tidak bisa menolaknya, tetapi ketika kita mau mengucap syukur atasnya kita akan melihat dan mengerti apa dan maksud dari peristiwa itu di ijinkan terjadi dalam kehidupan kita.

     3. Mengucap Syukur Adalah Kehendak Allah

ketika kita bersyukur atas setiap hal, entah itu hal yang baik atau hal yang buruk sekalipun yang terjadi di dalam hidup kita, kita sudah melakukan apa yang Allah kehendaki. karna dengan kita mengucap syukur artinya kita menerima kehendak Tuhan, Biarlah kehendak-Mu yang terjadi bukan kehendak ku.

Sabtu, 15 Juni 2019

MEJAGA...

 MEJAGA HATI



Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Amsal 4:23

     Hati manusia begitu luas hingga tak terukur dan begitu dalam sampai tak terselami, keinginan yang sulit terpuaskan. Hati juga sangat mudah tersakiti, sukar untuk mengampuni, mudah iri dan dengki. Jika kita tidak waspada maka hati kita akan penuh sampah tersebut dan itu dapat mempengngaruhi kondisi hidup kita. Kita hidup susah atau bahagia sangat ditentukan oleh kondisi hati kita, kalau hati kita dalam kondisi yang baik atau damai maka yang kita alami di dalam kehidupan akan penuh ketenangan dan sejahtera.
Suatu contoh misalnya, kita di sakiti oleh seseorang lalu kita tidak mau mengampuni orang tersebut, yang terjadi pasti hati kita tidak ada kenyamanan pasti ada sesuatu yang mengganjal kalau sudah begitu rasa tenang dan sejahtera itu tidak ada dalam hidup kita, karena hal itu seperti kita menyimpan bangkai yang lama kelamaan akan semakin busuk baunya dan hati kita tercemari. Kalau sudah begini yang terpancar dari diri kita tidak lagi kehidupan melainkan kematian atau kebusukkan, melalui ucapan kita penuh kata-taka yang busuk yang tidak enak didengarkan.
     Lalu bagaimana kita dapat menjaga hati kita tetap bersih ?







WASPADAI setiap apa yang kita lihat dan yang kita dengar di dalam hidup ini, Sebab tidak semua apa yang kita lihat dan dengarkan itu baik, terkadang ada banyak kejadian yang tidak perlu untuk kita lihat dan kita dengarkan, kita harus selektif dalam hal ini.
Karna kita hasil dari apa yang kita lihat dan apa yang kita dengarkan, apabila kita melihat dan mendengar hal-hal yang baik maka yang ada di hati kita hanyalah kebaikan semata, demikian sebaliknya, untuk itu selalu WASPADA !



Minggu, 09 Juni 2019

Hanya Tongkat...

              ✔ Hanya Tongkat, TUHAN
Yang ada di tangan Musa hanyalah tongkat, tongkat yang hanya dari kayu kering tidak ada otoritas atau wewenang apa pun dan tidak ada artinya apa-apa, hanya untuk mengembalakan kambing domba dan penopang tubuhnya ketika lelah dalam perjalanan. 
     Di saat Tuhan bertanya, apakah yang di tanganmu itu ? Musa menjawab : TONGKAT.  Hanya tongkat Tuhan, bukan apa-apa, ini tidak ada artinya hanya kayu, hanya untuk memngembalakan kambing domba dan penopang tubuhku itu saja.
Tongkat itu hanya akan menjadi tongkat yang biasa kalau hanya ditangan Musa, tetapi itu menjadi hal yang berbeda ketika Tuhan pakai.
Sering kali Tuhan mengadakan keajaiban melalui hal-hal yang ada pada kita, hal-hal yang kita anggap sederhana bahkan yang tidak ada artinya, bisa Tuhan pakai menolong, memberkati, menyelamatkan kita dan orang lain.
Apa yang dintangan kita saat ini, apa yang di percayakan pada kita jangan kita buang, janganlah kita sia-siakan Tuhan bisa pakai untuk memberkati, menolong, membebaskan dan menguatkan banyak orang. Sebenarnya setiap kita di beri Tuhan otoritas di tangan kita untuk melakukan keajaiban untuk sebuah perubahan, tapi kebanyakan dari kita belum menyadari dan memakainya,teruslah menebar kebaikan maka keajaiban pasti terjadi, Tuhan Menyertai...

Sabtu, 08 Juni 2019

Tuhan Membuat Hal Yang...

              ✔ Tuhan Membuat Hal Yang Tak Berarti Menjadi Berarti
Ketika Musa hanya menjadi seorang gembala kambing domba mertuanya, hidupnya terlupakan tidak ada arti apa-apa ia hanya bersama kawanan kambing domba di padang, mengerjakan pekerjaan yang sepele yang bukan bidangnya, bukan minatnya, tapi harus di kerjakan karena kondisi yang menuntut ia mengerjakan itu.
Kalau di lihat dari latar belakangnya Musa bukan orang yang bodoh, ia memiliki pendidikan yang bagus sewaktu hidup di istana Mesir, pada waktu itu Mesir sudah memiliki peradapan yang jauh lebih maju di bandingkan bangas-bangsa lain dan Musa di besarkan disana tentunya ia belajar banyak hal, mengenai pemmerintahan, kepemimpinan, politik dan sebagainya apa lagi ia anak angkat putri raja sudah barang tentu semuanya itu ia pasti dapatkan.
     Tetapi perjalanan hidupnya berkata lain, ia menjadi gembala kambing domba, hal ini menjadikan tekanan berat Musa secara mental. Terbukti ketika ia bertemu dengan Allah dan Allah mengutusnya, tetapi Musa berkata ke pada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" (Keluaran 3:11). Musa kehilangan jati dirinya yang sesungguhnya, ia menjadi penakut, ia rendah diri merasa bukan apa-apa, ia merasa tidak mampu menjalankan tugas tersebut.
Kondisi dan situasi boleh berubah di dalam perjalanan hidup kita, akan tetapi jangan sampai kita kehilangan jati diri kita yang baik itu, jangan sampai kita kehilangan pengharapan sehingga membuat kita menjadi putus asa, takut dan lemah. Tetaplah percaya kalau Tuhan sanggup memulihkan keberadaan kita, disaat kita hancur, terpuruk, jatuh dan tidak lagi berarti sekalipun, Tuhan masih sanggup menjadikan dan memberi arti lagi di dalam hidup kita.

" HANYA TONGKAT "

HANYA TONGKAT

TUHAN berfirman kepadanya : "Apakah yang di tanganmu itu?" jawab Musa: "Tongkat".
Keluaran 4:2.





Dalam kehidupan orang Yahudi/Isarel khususnya para gembala pada zaman itu tidak bisa lepas dari yang namanya tongkat, tongkat itu sendiri selain berguna untuk menopang tubuh saat dalam perjalanan jauh tongkat juga untuk menghalau binatang buas dari kawanan ternak para gembala.
Bagi raja, tua-tua kota dan para pemuka-pemuka agama tongkat bisa melambangkan otoritas atau wewenang yang di milikinya.
     Musa juga memegang tongkat, akan tetapi tongkat yang di bawa Musa hanyalah seperti tongkat para gembala pada umumnya, yang hanya berfungsi dalam pengembalaan kawanan domba-dombanya. Kehidupan Musa yang sedari kecil hidup di Mesir di dalam istana Firaun, sebagai anak angkat putri Firaun, tentunya secara pendidikkan dan secara ekonomi sangat berlimpah. Tapi setelah 40 tahun semuanya itu berubah disaat dia membunuh salah satu prajurit raja Firaun, karena dia membela orang sebangsanya (Israel/Ibrani) yang di pukuli oleh karena bangsanya Musa di perbudak di Mesir. Sejak peristiwa itu Musa menjadi orang pelarian, dia lari dari Mesir meninggalkan semua kemewahannya, hingga ia samapai di Midian dan menjadi menantu Yitro imam di Midian.
Kondisi Musa sudah berubah, dulu ia tinggal di istana sekarang ia hanya seorang gembala kambing domba milik mertuanya, sungguh suatu perubahan yang tidak pernah ia bayangkan bahkan impikan akan menjadi seperti ini, hanya ada TONGKAT gembala di tangannya bukan tongkat otoritas atau kekuasaan yang untuk memimpin tapi hanya TONGKAT gembala untuk mengembalakan kambing domba. Ia yang menerima pendidikkan di kerajaan Mesir selama 40 tahun, yang seharusnya menjadi pemimpin prajurit, tapi kenyataan berbicara lain ia yang mengenyam pendidikkan yang baik hanya menjadi "pemimpin" kambing domba itu pun milik mertuanya.
HANYA TONGKAT, yang ada di tangan Musa yang ia pakai untuk mengembalakan kambing domba setelah sekian lama ia mengembalakan kambing domba, di suatu saat Musa berada di gunung Horeb mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan Tuhan mengutus Musa untuk membebaskan bangsanya dari perbudakkan di Mesir tempat dimana ia di besarkan. Menyadari tugas itu terlampau berat baginya Musa menolak dengan berbagai alasan, tapi Tuhan tidak kurang cara kalau mau merubah hidup seseorang lalu Tuhan berfirman: "Apakah yang di tanganmu itu ?" Jawab Musa : "TONGKAT".
Musa mau berkata ini hanya tongkat Tuhan, tongkat gembala biasa tidak ada istimewanya, tidak ada otoritas apa-apa selain hanya untuk mengembalakan kambing domba. Mana mungkin bisa ada otoritas untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan, tidak ada Tuhan...
Tetapi Tuhan berfirman: "Lemparkanlah itu ke tanah". (Keluaran 4:3) lalu Musa melemparkannya ke tanah dan Tuhan membuat keajaiban tongkat itu menjadi ular, Musa diminta untuk memegang ekor ular tersebut kemudian ular itu menjadi tongkat kembali, dengan tongkat yang sama inilah Tuhan memakai Musa mengadakan banyak keajaiban dan melalui tongkat yang sama juga Tuhan mengangkat keberadaan Musa dari seorang gembala kambing domba mnejadi seorang pemimpin dan pembebas bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir.
     Dari kisah perjalanan kehidupan Musa kita dapat belajar beberapa hal :
                    ✔ Menjadi Tidak Berarti
Musa tinggal di istana Mesir yang tadinya dia di buang oleh orang tuanya di hanyutkan di sungai Nil dengan alasan keselamatan, lalu ditemukan oleh putri Firaun dan di angkat menjadi anak. Sebagai anak angkat putri raja tentunya Musa mendapatkan fasilitas-fasilitas layaknya seorang anak putri raja, pendidikan yang terbaik, posisi di istana yang tidak didapatkan oleh orang-orang sebangsanya.
Tetapi oleh satu dan lain hal kehidupan bisa berubah menjadi kebalikannya dan itu bisa di alami oleh siapa saja, dulunya menjadi anak orang kaya semua serba ada dan kecukupan karena orang tuanya terlilit hutang hidupnya menjadi miskin dan tidak punya apa-apa. Dulu punya pangkat dan kedudukan yang sangat baik di perusahaan atau di pemeritahan, karna tersandung masalah kini memnjadi orang biasa-biasa saja. Kehidupan terasa menjadi kejam dan menakutkan seakan-akan hidup ini tidak ada artinya lagi, tidak ada orang yang mau peduli lagi. Tapi percayalah Tuhan mengerti apa yang kita alami, Tuhan selalu memperhatikan kita, akan tiba waktunya nanti Tuhan pasti tolong. Melalui penderitaan, petaka, kesusahan yang menimpa kita Tuhan memiliki tujuan untuk membawa kita semakin dekat dan bersandar kepada-Nya.
              


Bersyukur Dalam Segala Hal

  BERSYUKUR DALAM SEGALA HAL " Mengucap syukulah dalam segala hal, sebab itulah yang di kehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bag...